Narative.id Pemalang · Network of Local News
ADVERTISEMENTPILKADES 2026
PILKADES 2026

Ketika Pilkades Menjadi Panggung - Ramai Iring-iringan, Tapi Mana Gagasannya?

Editorial Narative.id - Ada pemandangan yang belakangan hampir seragam di lini masa media sosial warga Pemalang. Jalan desa mendadak penuh. Sepeda motor berbaris panjang. Mobil…

Keramaian menunjukkan kemampuan menghadirkan orang pada sebuah momentum. Popularitas menunjukkan seberapa dikenal seorang kandidat. Sedangkan elektabilitas baru berbicara mengenai siapa yang benar-benar akan dipilih masyarakat. Dan hanya yang terakhir itulah yang menentukan hasil Pilkades.


Jangan Sampai Demokrasi Desa Berubah Menjadi Kompetisi Konten
Pilkades Pemalang 2026 bukan kontestasi kecil. Sebanyak 174 desa mengikuti Pilkades serentak dan pemungutan suara dijadwalkan pada 9 November 2026. Artinya, dari proses ini akan lahir ratusan pemimpin yang keputusan-keputusannya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun. Karena itu, masyarakat berhak mendapatkan sesuatu yang lebih substansial daripada sekadar tontonan politik.

Biarkan iring-iringan menjadi bagian dari kegembiraan demokrasi, biarkan kesenian hidup, biarkan pendukung menunjukkan antusiasmenya. Tetapi setelah suara musik berhenti dan jalan desa kembali sepi, kandidat harus masuk ke ruang yang lebih serius: ruang gagasan, sampaikan program, buka visi dan misi kepada publik, Jelaskan dari mana anggarannya, sebutkan prioritas 100 hari pertama.

Berani membuka rencana pengelolaan APBDes, berani mengatakan program mana yang realistis dan mana yang tidak. Bahkan akan lebih sehat apabila warga mulai membandingkan calon bukan berdasarkan siapa yang mempunyai iring-iringan paling panjang, tetapi siapa yang mempunyai program paling masuk akal dan rekam jejak paling dapat dipercaya.

Pemerintah Kabupaten Pemalang sendiri sejak awal menekankan pentingnya kondusivitas dan netralitas dalam pelaksanaan Pilkades. Pemkab juga mengingatkan bahwa Pilkades harus menjadi kompetisi yang sehat serta tetap menjaga persatuan masyarakat. Karena Desa Tidak Dipimpin dengan Viralitas, ada satu hal yang sering dilupakan dalam euforia politik. Setelah Pilkades selesai, spanduk akan diturunkan, Poster akan dilepas, Grup pendukung perlahan sepi, Video iring-iringan akan tenggelam oleh konten baru, Tetapi persoalan desa tetap tinggal.

Jalan yang rusak tetap harus diperbaiki. Warga tetap datang meminta pelayanan. Petani tetap membutuhkan irigasi. Anak muda tetap membutuhkan pekerjaan. UMKM tetap membutuhkan pasar. Dana desa tetap harus dipertanggungjawabkan, dan kepala desa terpilih harus menghadapi semuanya.
Karena itu, mungkin pertanyaan terbaik kepada setiap calon kepala desa bukan lagi:

"Berapa banyak orang yang mengantarmu mendaftar?"
Melainkan:
"Apa yang akan kamu kerjakan setelah mereka mengantarmu sampai kursi kepala desa?"

Sebab kemenangan sesungguhnya bukan ketika ribuan orang berjalan di belakang seorang calon. Kemenangan baru mempunyai arti ketika, setelah terpilih, seorang kepala desa mampu berjalan bersama seluruh warganya—termasuk mereka yang dahulu tidak memilihnya. Pada akhirnya, Pilkades bukan perlombaan membuat kerumunan, bukan pula kompetisi siapa yang paling viral.

Pilkades adalah proses mencari seseorang yang sanggup mengubah dukungan menjadi kerja, janji menjadi kebijakan, dan kemenangan menjadi kesejahteraan warga. Dan untuk menilai itu, masyarakat Pemalang perlu melihat lebih jauh dari sekadar layar telepon.

Narative.id — Melihat Peristiwa, Membaca Makna.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi Narative.id Pemalang

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT