Editorial Narative.id - Ada pemandangan yang belakangan hampir seragam di lini masa media sosial warga Pemalang. Jalan desa mendadak penuh. Sepeda motor berbaris panjang. Mobil, pengeras suara, kesenian tradisional hingga ratusan—bahkan ribuan—orang mengiringi seseorang menuju balai desa.
Di tengah kerumunan itu berdiri satu tokoh utama: bakal calon kepala desa.
Telepon genggam terangkat. Kamera merekam dari depan, samping, bahkan dari udara. Beberapa jam kemudian potongan videonya berpindah dari satu status WhatsApp ke status lainnya, masuk Facebook, TikTok, Instagram, dan grup-grup percakapan warga.
Pesannya seperti hendak dibuat sederhana:
"Lihatlah, calon ini punya massa."
Fenomena itu kini menjadi bagian dari atmosfer Pilkades Serentak Kabupaten Pemalang 2026. Bahkan di Desa Pamutih, Kecamatan Ulujami, sebuah pemberitaan mencatat lebih dari 3.000 warga dan 25 kereta kelinci ikut mengiringi salah seorang bakal calon saat mendaftar.
Di tempat lain muncul pilihan yang berlawanan. Seorang bakal calon Kepala Desa Serang, Kecamatan Petarukan, justru diberitakan datang mendaftar dengan bersepeda tanpa iring-iringan massa. Dua pemandangan berbeda itu membawa kita pada satu pertanyaan yang lebih penting: Apakah keramaian adalah tanda kemenangan, atau kita sedang menyaksikan politik desa memasuki era glorifikasi?
Politik yang Semakin Visual
Tidak ada yang salah dengan warga mengantar calon yang mereka dukung. Pilkades memang pesta demokrasi paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Kandidatnya bisa tetangga sendiri, saudara, mantan perangkat desa, tokoh masyarakat, pengusaha lokal, atau seseorang yang setiap hari ditemui di warung. Karena kedekatan itu, ekspresi politiknya pun lebih emosional.
Masalahnya muncul ketika keramaian mulai diperlakukan sebagai ukuran kualitas calon. Seribu orang berjalan di belakang seorang kandidat terlihat sangat meyakinkan di layar telepon. Video berdurasi 30 detik dengan massa memenuhi jalan jauh lebih mudah menarik perhatian dibandingkan dokumen visi-misi lima halaman.
Algoritma media sosial menyukai keramaian, Demokrasi seharusnya menyukai gagasan dan di sinilah keduanya mulai berhadapan. Iring-iringan dapat membentuk persepsi bahwa seseorang adalah kandidat terkuat. Ketika videonya terus dibagikan, muncul efek psikologis: seolah-olah pilihan masyarakat sudah mengarah kepada satu nama.
Rekomendasi Video
Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
▶Slamet Muhajirin - Anggaran Desa Terbatas, Pembangunan Jembatan Kabunan Barat–Timur Jadi TantanganNarative.id Pemalang
▶Dua Banner Calon Kades Kabunan Ditemukan RusakNarative.id Pemalang
▶Donomulyo Farm Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di SumberotoNarative.id Malang
▶Kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Malang Selatan.Narative.id Malang
▶Kusmanto, S.Pd Keadilan Tanpa melihat Status PilihanNarative.id Pemalang
▶Ratusan warga mendatangi SDN 1 Kebondalem, PemalangNarative.id Pemalang
▶💥 Ledakan Rusak Toko Sepatu di Perumahan San Antonio SurabayaNarative.id Malang









Narative.id Jawa Timur · Wisata, Kuliner & Budaya
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR