Narative.id Pemalang · Network of Local News
ADVERTISEMENTPILKADES 2026
PILKADES 2026

Ketika Pilkades Menjadi Panggung - Ramai Iring-iringan, Tapi Mana Gagasannya?

Editorial Narative.id - Ada pemandangan yang belakangan hampir seragam di lini masa media sosial warga Pemalang. Jalan desa mendadak penuh. Sepeda motor berbaris panjang. Mobil…

Padahal kerumunan bukan kotak suara.

Orang yang datang dalam sebuah iring-iringan belum tentu seluruhnya akan memberikan suara kepada kandidat tersebut. Sebaliknya, orang yang diam di rumah dan tidak pernah memasang foto calon di status WhatsApp tetap memiliki satu suara yang nilainya sama. Pada hari pencoblosan, satu orang tetap satu suara, tidak ada tambahan suara karena sebuah video ditonton 100 ribu kali. 


Dari Adu Program Menjadi Adu Keramaian? Ada persoalan lain yang jauh lebih penting.

Di tengah banyaknya foto, video dan iring-iringan pencalonan kepala desa yang beredar, publik semestinya mulai bertanya:
Pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak semeriah suara knalpot atau musik dari pengeras suara, tetapi justru itulah substansi Pilkades. Kepala desa yang terpilih kelak tidak akan dinilai dari berapa panjang iring-iringannya ketika mendaftar. Ia akan berhadapan dengan APBDes, pelayanan warga, konflik sosial, pembangunan infrastruktur, data kemiskinan, aspirasi RT dan RW, BPD, kelompok tani, pemuda, perempuan, UMKM hingga berbagai persoalan sehari-hari masyarakat.

Di titik itulah popularitas berhenti bekerja, yang dibutuhkan adalah kemampuan memimpin.

Glorifikasi Bisa Menjadi Strategi Politik.
Dalam komunikasi politik, mempertontonkan dukungan bukan sesuatu yang baru, Kerumunan mempunyai fungsi simbolik ia menciptakan kesan kekuatan. Semakin banyak orang terlihat mendukung, semakin mudah muncul persepsi bahwa kandidat tersebut mempunyai peluang besar untuk menang.

Media sosial memperbesar efek tersebut.
Satu iring-iringan yang sebenarnya hanya berlangsung satu atau dua jam dapat hidup berhari-hari di dunia digital. Potongan video yang sama diunggah oleh puluhan akun, masuk grup WhatsApp, kemudian dibicarakan di warung dan lingkungan keluarga.

Akhirnya terbentuk narasi:

"Wonge akeh."
"Kayane kuat."
"Pendukunge nang endi-endi."

Persepsi semacam itu tentu mempunyai nilai politik. Tetapi masyarakat perlu membedakan antara mobilisasi massa, popularitas, dan elektabilitas. Ketiganya tidak selalu sama.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi Narative.id Pemalang

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT