Bagi orang yang menyaksikan dari dekat, satu pertanyaan mungkin muncul: tidakkah kaki dan tubuh mereka terasa sakit?
Seorang pemain Ebeg memberikan jawaban dari pengalamannya sendiri. Menurut dia, ketika berada dalam kondisi yang disebut masyarakat sebagai kerasukan, rasa sakit maupun lelah justru tidak dirasakannya.
“Ketika kerasukan tidak merasakan apa-apa,” tuturnya saat ditemui di sela pertunjukan.
Ketika ditanya apakah tubuhnya sakit karena menari tanpa alas kaki sementara banyak kerikil berada di sekitar arena, jawabannya tetap sama.
“Enggak ada rasa sakit atau capai. Biasanya keesokan harinya baru terasa pegal,” katanya.
Ketika Tubuh Seolah Mengabaikan Kerikil
Pengakuan itu memberikan sisi lain dari pertunjukan Ebeg yang selama ini lebih sering dilihat penonton dari bagian luarnya: gerakan tari, irama musik, kostum, atraksi, hingga bagian pertunjukan yang oleh masyarakat kerap dikaitkan dengan trance atau kerasukan.
Dari sudut pandang pemain, pengalaman tersebut terasa lebih personal. Saat pertunjukan berlangsung, perhatian mereka tidak lagi tertuju pada kerikil yang diinjak ataupun rasa lelah setelah bergerak dalam waktu lama.
Namun ketika pertunjukan selesai dan waktu telah berlalu, tubuh kembali memberikan “tagihannya”. Pegal baru dirasakan keesokan harinya.
Pengalaman pemain tersebut tentu merupakan kesaksian pribadi, bukan penjelasan medis mengenai penyebab seseorang tidak merasakan sakit ketika berada dalam kondisi trance.


▶
▶
▶
▶
▶






Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR