PEMALANG, narative.id — Suara kendang bertalu, irama musik mengiringi gerakan para pemain dengan kuda kepang di tangan. Di sekeliling arena, warga berdiri berdesakan. Sebagian membawa anak-anak, sebagian lainnya memilih mencari tempat paling dekat agar tak kehilangan satu pun adegan.
Di tengah gempuran hiburan digital, kesenian ebeg masih mempunyai ruang di tengah masyarakat.
Ketua Dewan Kesenian Pemalang, Andi Rustono, memandang ebeg sebagai salah satu alternatif hiburan masyarakat yang keberadaannya perlu dilihat dari perspektif kesenian dan kebudayaan.
“Ebeg ini menjadi hiburan alternatif, jangan ditarik ke arah yang kontroversial,” kata Andi Rustono saat ditemui Narative.id di sela pertunjukan ebeg.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena pembicaraan mengenai ebeg terkadang lebih banyak berhenti pada bagian pertunjukan yang dianggap tidak biasa atau dikaitkan dengan hal-hal di luar keseniannya.
Padahal di balik sebuah pertunjukan ebeg terdapat pemain, pemusik, pengelola kelompok kesenian hingga masyarakat yang menjadikannya sebagai bagian dari hiburan rakyat.
Ebeg Pemalang dan Identitas Budaya Ngapak

Menurut Andi, kesenian ebeg yang berkembang di Kabupaten Pemalang juga tidak berdiri sendiri.
Ada karakter kebudayaan yang menghubungkannya dengan kesenian serupa di daerah-daerah lain dalam wilayah budaya Ngapak.
“Kesenian ebeg di Pemalang sebenarnya memiliki karakter hampir sama di seluruh wilayah Ngapak,” ujarnya.
Wilayah budaya Ngapak sendiri melintasi batas administratif. Dialek dan berbagai ekspresi kebudayaannya dapat ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Tengah bagian barat.
Karena itu, kemiripan kesenian rakyat antarwilayah menjadi menarik untuk dilihat sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat yang tidak selalu mengikuti garis batas kabupaten.
Di Pemalang, ebeg masih dapat dijumpai dalam berbagai pertunjukan masyarakat. Kuda kepang menjadi salah satu elemen visual yang paling mudah dikenali, berpadu dengan musik tradisional dan gerakan para pemain.
Namun bagi Andi, ruang untuk membicarakan ebeg seharusnya tidak semata-mata diarahkan pada unsur yang dapat menimbulkan kontroversi.


▶
▶
▶
▶






Narative.id Jawa Timur · Wisata, Kuliner & Budaya
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR