Narative.id Pemalang · Network of Local News
ADVERTISEMENTPILKADES 2026
Ekonomi & Usaha

Di Balik Riuh Lelang Asemdoyong, Comel Membaca Jari, Mata, dan Harga Ikan

Suara cepat bersahutan di tengah tumpukan ikan yang baru diturunkan dari kapal. Di antara bakul yang berdiri mengelilingi hasil tangkapan nelayan, sebuah…
Bandi sedang proses lelang di TPI Asem Ndoyong
Bandi sedang proses lelang di TPI Asem Ndoyong · Foto: Dok. Narative.id / Istimewa
NARATIVE.ID, Pemalang — Suara cepat bersahutan di tengah tumpukan ikan yang baru diturunkan dari kapal. Di antara bakul yang berdiri mengelilingi hasil tangkapan nelayan, sebuah jari tiba-tiba terangkat. Di sudut lain, seseorang hanya menganggukkan kepala.

Ada pula yang tidak mengatakan apa-apa. Tatapan mata sudah cukup.

Bagi orang yang baru pertama kali datang ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, gerakan-gerakan itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi Subandi, setiap tanda memiliki arti.

Subandi adalah juru tawar ikan. Di lingkungan pelelangan, profesinya lebih akrab disebut “comel”.

“Comel sama juru lelang itu sama saja. Comel itu pandangan orang. Orang yang ngomongnya cepat, ngomel-ngomel terus, kemudian disebut comel. Aslinya itu juru tawar, menawarkan,” tutur Subandi.

Ia menyebut telah menjalani pekerjaan itu selama sekitar lima tahun ketika wawancara dilakukan.

Menjadi comel ternyata bukan sekadar perkara mampu berbicara dengan cepat.

Hal pertama yang menurut Subandi harus dikuasai adalah mengenali para peserta lelang atau bakul.

“Bekalnya itu satu, mengenal peserta lelang. Bakul. Kalau kita mengenal, pelelangan bisa berjalan,” katanya.

Nama bakul menjadi penting karena ketika seseorang memberikan penawaran tertinggi, juru tawar harus segera mengetahui siapa yang memenangkan ikan tersebut.

Namun mengenali orang saja belum cukup.

Seorang comel harus mengingat jenis ikan, memperkirakan harga, sekaligus mengikuti pergerakan penawaran dalam waktu yang sangat singkat.

Subandi mencontohkan harga setiap jenis ikan berbeda. Cumi, tenggiri, kakap hingga udang memiliki harga pasar masing-masing yang harus dipahami sebelum proses tawar-menawar berlangsung.

“Pertama kita harus tahu jenis ikan. Jenis ikan itu per kilonya berapa. Jadi menawarkan itu tidak asal-asalan,” ujarnya.

JARI, ANGGUKAN, HINGGA TATAPAN MATA

Di tengah suasana pelelangan yang cepat, komunikasi tidak selalu berlangsung dengan kata-kata.

Bakul mempunyai sejumlah kode yang dapat dibaca oleh juru tawar.

“Ada yang pakai tunjuk jari, ada yang pakai mata, ada yang pakai tunjuk jari setengah, ada yang menganggukkan kepala,” kata Subandi.

Kode-kode tersebut menjadi bagian dari komunikasi antara juru tawar dengan peserta lelang.

Muhammad Romdon, warga yang mengetahui aktivitas pelelangan di Asemdoyong, mengatakan terdapat kosakata maupun tanda tertentu yang lebih mudah dipahami oleh pedagang dan orang-orang yang sehari-hari berada di tempat pelelangan.

Menurutnya, orang di luar lingkungan tersebut belum tentu langsung memahami makna suara maupun kode yang digunakan dalam proses penawaran.

Karena itulah seorang comel tidak cukup hanya memperhatikan ikan. Matanya juga harus terus bergerak membaca respons para bakul.

“LELE-LELE”, JEDA KHAS SUBANDI

Setiap juru tawar bahkan memiliki gaya sendiri.

Salah satu yang melekat pada Subandi adalah ucapan “lele-lele” di sela proses penawaran.

Suhariyanto menjelaskan, suara tersebut merupakan ciri khas Subandi sekaligus menjadi semacam tempo atau jeda ketika proses tawar-menawar berlangsung.

Saat itulah Subandi memperhatikan wajah para bakul untuk melihat apakah masih ada peserta yang ingin meningkatkan harga.

“‘Lele-lele’ itu ciri khas khusus Mas Bandi, sekaligus memberikan tempo kepada pembeli untuk berpeluang meningkatkan nilai pembelian ikan tersebut,” terang Suhariyanto.

Menurutnya, masing-masing comel mempunyai karakter berbeda. Ada yang menggunakan tempo lebih lambat sambil memperhatikan wajah pembeli, memberi kesempatan kepada bakul untuk menghitung dan menentukan penawaran berikutnya.

Di Asemdoyong, ada keunikan lain.

Dalam keterangan yang diperoleh NARATIVE.ID, dua comel dapat menjalankan proses penawaran dalam waktu bersamaan.

Suara keduanya kemudian bercampur dengan percakapan bakul, aktivitas pekerja, serta ikan yang terus masuk dari kapal.

DARI KAPAL MENUJU MEJA LELANG

Proses pelelangan sebenarnya telah dimulai bahkan sebelum suara comel terdengar.

Suhariyanto menjelaskan, hasil tangkapan nelayan dibawa dari kapal menuju TPI menggunakan gerobak pengangkut.

Petugas kemudian menata ikan berdasarkan urutan kedatangan.

Ikan yang datang lebih dahulu diprioritaskan untuk dilelang lebih dahulu karena komoditas tersebut memerlukan penanganan cepat agar kualitasnya tetap terjaga.

Setelah mendapatkan pembeli, transaksi tidak berhenti pada suara juru tawar.

Ada petugas pencatat yang mengurus administrasi hasil pelelangan. Subandi menyebut terdapat karcis untuk nelayan dan bakul, sementara data transaksi juga dicatat sebagai bagian dari pertanggungjawaban apabila terjadi kekeliruan.

Aktivitas itu dapat berlangsung berjam-jam.

Menurut Subandi, pelelangan biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah berlangsung hingga menjelang siang, kegiatan dapat dilanjutkan kembali dan baru berakhir sekitar pukul 14.00 WIB, bergantung pada kedatangan nelayan dan banyaknya hasil tangkapan.

KERAPU BESAR YANG TAK TERLUPAKAN

Dari sekian banyak ikan yang pernah melewati tangannya sebagai juru tawar, Subandi menyimpan satu pengalaman yang masih diingatnya.

Sekitar dua tahun sebelum wawancara dilakukan, seekor ikan kerapu berukuran tidak biasa dibawa ke pelelangan.

Subandi memperkirakan beratnya sekitar satu setengah kuintal.

“Pernah dulu dapat kerapu. Satu kerapu itu sekitar satu setengah kuintal,” tuturnya.

Ikan tersebut, menurut ingatannya, terjual sekitar Rp5 juta.

Pengalaman itu menjadi tidak biasa karena kerapu yang sehari-hari ditemui di kawasan tersebut umumnya berukuran jauh lebih kecil.

CERITA DI BALIK SUARA COMEL

Di tengah hiruk-pikuk TPI, pekerjaan comel mungkin hanya berlangsung beberapa menit untuk setiap kelompok ikan.

Namun dalam waktu singkat itu, banyak hal berjalan sekaligus.

Juru tawar harus mengetahui siapa pembelinya, memahami ikan yang sedang ditawarkan, membaca harga, menangkap kode peserta, hingga menentukan pemenang lelang.

Suara cepat yang bagi orang luar terdengar seperti rentetan kata tanpa jeda sesungguhnya menjadi bagian dari mekanisme yang mempertemukan hasil tangkapan nelayan dengan para bakul.

Di situlah pekerjaan Subandi berada.

Di antara ikan yang baru turun dari kapal, jari yang terangkat setengah, kepala yang sedikit mengangguk, dan sepasang mata yang memberi isyarat.

Bagi orang lain mungkin hanya riuh pasar ikan.

Bagi seorang comel, semuanya adalah bahasa.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
#Pantura#Warga
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Moh. Fadli Nizami P, S.IP
Reporter / Redaksi Narative.id Pemalang

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT